Azis Syamsuddin

Tangkal Benih Terorisme Lewat Pendekatan Lunak

Azis Syamsuddin

JAKARTA – Tren terorisme di Indonesia sejak tahun 1980-an cenderung fluktuatif. Hampir setiap tahun muncul ancaman dan serangan. Ini jelas menjadi tantangan terbesar Polri, di tengah kritik masyarakat terkait pengabdian dan profesionalime.

Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin menegaskan, Polri harus terus belajar dari periode kritis serangan terorisme yang terjadi di Poso maupun daerah lainnya sepanjang tahun 2020.

Polri juga diminta melakukan pendalaman, bagaimana benih terorisme itu lahir yang mengakibatkan rangkaian tragedi bom bunuh diri pada tahun 2018 di Surabaya.

Azis Syamsuddin

Baca Juga  Gugurnya Prajurit TNI, DPR RI Desak PBB Lakukan Investigasi

Lalu bom Sarina Jakarta pada tahun 2016, maupun peristiwa bom Bali, pada 1 Oktober 2005 yang secara jelas menjadi perhatian dunia.

“Ada dominasi kelompok secara konstan. Jati diri mereka terlihat jelas meski disamarkan. Kelompok itu konsisten menembar ancaman hingga aksi yang menimbulkan korban jiwa,” ungkap Azis Syamsuddin, Jumat (11/12/2020).

Dari data yang ada, berbagai kelompok yang pernah terlibat dalam serangan terorisme di Indonesia dimulai dari Jemaah Islamiyah (JI), Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Baca Juga  Azis Syamsuddin Beri Atensi Terkait Defisit APBN dan Pembentukan INA yang Digagas Presiden Jokowi

Belum lagi Mujahidin Indonesia Timur, hingga Islamic State of Iraqi and Syriah (ISIS) yang cenderung berafiliasi dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Maka, Polri dituntut terus belajar dari benang merah peristiwa yang ada. Potensi kelompok teror terus akan berevolusi. Tumbuh seiring generasi. Metodenya kerap berubah.

Dari doktrin anak muda, hingga menargetkan perempuan dan anak-anak sebagai mortir. “Terbaru, ada skenario masuk ke dunia pendidikan tinggi. Ini yang juga sangat kita khawatirkan,” ungkap Wakil Ketua Umum Partai Golkar tersebut.

Baca Juga  Hari Kesehatan Nasional, Azis Syamsuddin: Terima Kasih Atas Perjuangan Tenaga Medis

Ditambahkan Azis Syamsuddin, Polri dihadapkan pada pilihan yang sulit. Dari praktik, kebijakan, dan tantangan dalam memerangi terorisme.

Belum lagi, pekerjaan rumah dalam menerapkan karakter persoalan yang ada lalu diimplementasikan pada pendekatan kualitatif, humanis.

Pola yang lebih soft dengan menggandeng Pondok Pesanteran dan tokoh alim ulama di daerah begitu penting dikedepankan.

“Tentu kita berharap, Polri mampu mengatasi tantangan ini. Seiring meningkatnya koordinasi dengan instrumen kelembagaan khusus seperti BNPT,” jelas Azis.

Baca Juga  Azis Syamsuddin Berikan Beberapa Catatan Terkait Rencana Pembukaan Ruang Publik

Menurut Azis, semua upaya tersebut harus dimaknai sebagai kesungguhan dan keseriusan Indonesia dalam memberantas terorisme. Pada posisi ini, DPR sangat berhadap aspek penindakan dan pencegahan jauh lebih dominan daripada aspek pemulihan.

Pergeseran dalam pendekatan yang dilakukan hard approach (tindakan keras) ke pendekatan lunak (soft approach) diyakini salah satu cara ideal.
“Saya yakin lebih bermanfaat. Mainkanlah peran penting itu serta hindari kerja yang bersifat sentralistis dan berpola konvensional,” terang pria jebolan Universitas Western Sydney itu.

Terakhir, Azis berpesan, langkah initidak hanya dilakukan Polri. Pemerintah Pusat dan Daerah juga dituntut untuk memainkan peran utama. Khususnya dalam inisiatif rehabilitasi dan reintegrasi sosial.

Baca Juga  Azis Syamsuddin Soroti Pelaksanaan Pilkada di Daerah Terpencil

“Saatnya kita belajar mendengarkan. Belajar dari pengalaman. Terorisme kerap lahir karena keterbelakangan dan pemahaman sesat. Tidak ada Agama yang mengajarkan membunuh sesama,” pungkas Azis. (scio/ful)

Baca Juga  Azis Syamsuddin Minta Investigasi Pembakaran Hutan Papua Diperdalam

Berita Lainnya

TRENDING BERITA

Berita Utama