Azis Syamsuddin

Pencegahan Terorisme, Azis Syamsuddin Minta Jaga Akses Vital

JAKARTA – Pencegahan terorisme dengan memperketat akses masuk Indonesia dari luar negeri menjadi bagian penting dalam upaya antisipasi kerawanan negara.

Selain penguatan poin pada diplomasi yang selama ini dibangun dengan negara eropa dan Asia Pasifik, Pemerintah Indonesia dituntut mengevaluasi konsep kerja pencegahan, pascapenangkapan terduga teroris di Lampung, Jambi maupun dan peristiwa di Sigi, Poso.

Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin menegaskan, peningkatan koordinasi antara PT. Angkasa Pura II dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) diharapkan menbuahkan hasil maksimal.

Utamanya membatasi gerak kelompok terorisme yang masuk dalam daftar hitam.

Baca Juga  RPP dengan UU Ciptaker Harus Selaras, Azis Syamsuddin: Evaluasi dan Koordinasi Kunci Utama

“Bandara kunci untuk menahan mereka. Fungsi lain, dengan cepat kita mengetahui siapa saja yang masuk. Ingat bahwa bandara akses vital, jangan sampai mudah dibobol!” tegas Azis Syamsuddin, Sabtu (12/12/2020).

Selain itu, Wakil Ketua Umum Partai Golkar tersebut meminta BNPT terus meningkatkan kapasitas, pertukaran informasi, serta penyusunan program bersama untuk penanggulangan terorisme.

“Melawan terorisme harus digemakan. Gemanya pun harus sampai. Tidak sebatas semangat apalagi tagline. Implementasi yang paling penting,” tegasnya.

Azis memahami BNPT selama ini menyembunyikan bagaimana konsep kerja sama, hasil perundingan termasuk negara-negara yang dirangkul.

Baca Juga  Apresiasi Lahirnya GeNose dan CePAD, Azis Syamsuddin: Ini Kontribusi Indonesia untuk Dunia

“DPR memahami ini ruang private. Tapi wujudnya harus terus dibangun. Agar sendi-sendi perlawanan kelompok terlarang itu tidak sampai tumbuh subur,” timpal Azis.

Dari beberapa laporan yang masuk, lanjut Azis ancaman terorisme di Indonesia dan beberapa negara, salah satunya Filipina, meningkat selama dunia menghadapi pandemi COVID-19.

Bahkan, lanjut Azis adanya pandemi tidak menghilangkan berbagai ancaman terorisme. Khususnya, terkait isu pemulangan bekas petempur ISIS asal Indonesia dan residivis teroris di dalam negeri yang sempat disampaikan Pemerintah beberapa waktu lalu.

“Gelagat ini tak bisa dianggap remeh. Kita harus cermat. Tentu dengan cara yang lebih soft,” papar Wakil Rakyat dari Dapil II Lampung itu.

Baca Juga  Azis Syamsuddin: Penutupan Pintu Masuk Bagi WNA Rasional

Indonesia dihadapkan pada bom waktu terkait kemungkinan buruk. DPR juga terus menggali informasi prihal perkembangan pemulangan bekas petempur asal Indonesia yang saat ini berada di kamp pengungsi.

“Seperti yang saya sampaikan, bahwa mobilisasi orang Indonesia di wilayah selatan Filipina, Afghanistan, dan negara lainnya, menjadi catatan mendasar. Dan Pemerintah khususnya Polri tidak bisa bekerja sendiri,” urainya.

Menurut Azis Syamsuddin, munculnya doktrin hingga jejaring dengan organisasi garis keras dari luar negeri bukan teori baru. Fakta itu ada di Indonesia setelah melihat dari rangkaian kasus bom dan ancaman teror selama ini.

“Di tengah wabah, organisasi garis keras untuk mampu memainkan perannya. Salah satunya meningkatkan propagandanya serta mencari anggota baru lewat dunia maya. Jika terdesak maka cara-cara di Sigi, Poso akan dilakukan,” ungkap Azis.

Baca Juga  Azis Syamsuddin Optimistis Suksesnya Vaksinasi Bangkitkan Gairah Ekonomi RI

Paham radikal terutama organisasi garis keras sangat pandai memaikan isu sentral. Salah satunya memanfaatkan kesulitan ekonomi saat pandemi untuk merekrut anggota baru

“Cara kerja organisasi ini sifatnya mendompleng. Dengan begitu kita akan kesulitan untuk mengurainya. Tapi saya begitu yakin BNPT mampu mendeteksi cara kerja mereka,” terang Azis. (scio/ful)

azis syamsuddin

Berita Lainnya